Minggu, 08 Februari 2015

HAMPIR SAJA

“Alhamdulillah”,ucapku pelan setelah pengajian ta’lim muta’allim yang diampu oleh Abah Sholah usai. Aku melihat teman disebelahku,Fafa rupanya dia tertidur ketika pengajian berlangsung. Aku membangunkannya.“Fa,Fafa!Ayo bangun”,ucapku pelan,seraya menepuk nepuk pundaknya.Fafa mengucek ucek matanya,lantas dia terbangun.”udah selesai?”,Tanya dia dengan polosnya.”Yaudah lah,liat aja,masjidnya aja udah sepi” kataku. Fafa mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru masjid,tak lama kemudian,dia mengajak pulang.
          Suasana di komplek putri Pondok Pesantren Al-Hikmah sudah mulai ramai,banyak santriwati yang hilir mudik membeli sarapan pagi, menjemur pakaian,bermain bulu tangkis di depan kamar,dan ada juga yang hanya malas malasan di kamar mereka. Sesampainya di kamar,aku lantas melepas mukenah dan melipatnya.
          “Ika,beli makan yuk?aku lapar”,ajak Fafa. Aku mengiyakan ajakannya.Saat aku hendak memakai jilbab,tiba tiba terdengar suara yang memanggilku dari luar kamar. Lalu aku keluar kamar,kulihat di luar sudah ada teman temanku.”Ika,ayo cepet”,kata Elfi. Dia,dan kedua temanku lainnya,yaitu Nana dan Maria menghampiriku.”Lho,memangnya mau kemana?”


,tanyaku kebingungan.”Yah,lupa dia.Kita kan mau ambil jas angkatan”,jawab Maria seraya mencubit pipiku.”Hah? Oh iya,aku lupa,tapi aku belum sarapan”, jawabku sambil memakai kerudung.
“Hei, ngramein halaman kamar orang aja”, kata Fafa menghampiri kami.”Tumben rapi semua?”,Fafa menyahuti lagi.


“Iyalah Fa, emang kamu mentang mentang libur jam segini belum mandi”, ledek Elfi.
“Hahahaha”,aku, Nana, dan Maria tertawa.”Yah,ngece gak nanggung,aku mah udah mandi dari tadi shubuh sebelum ngaji kali”,jawab Fafa tak mau kalah.
“Udah udah,jadi keluar gak?izin sekarang aja”,ajak Maria.
“Eh,mau kemana sih?”,Tanya Fafa penasaran.”Ke Wonosobo sayang,ambil jas angkatan kita”.Jawab Nana pelan.
“Oalah,aku ikut yah?”,kata Fafa semangat.”Iya,iya,ayo sekarang izin ke kantor pondok”,ajak Elfi.Lalu kami berjalan menuju kantor pondok.
          “Assalamu’alaikum Ukhti”,sapaku pada pengurus yang sedang mengelap kaca jendela kantor pondok.Lantas pengurus itu menoleh,ternyata dia Ukhti Oi.”Wa’alaikumsalam,iya Ika ada apa?”,Tanya Ukhti Oi ramah.”Ukhti,boleh izin yah?”rayu ku pada Ukhti Oi.
“Memang mau kemana?”,
“Ke Wonosobo Ukhti”,jawab kami hampir serempak.
“Jauh sekali Ika,mau ngapain emang?”,Tanya Ukhti Oi heran.
“Mau ambil jas angkatan Ukhti,tiga hari lagi kan udah akhirussanah”,jawabku
“Ya sudah,izinnya ke dalam saja sama Ukhti Jannah”,jawab Ukhti Oi seraya meninggalkan kami.
Lalu kami masuk ke kantor pondok.Didalam terlihat aktivitas para pengurus.Ada yang sedang menulis,mengetik,dan ada juga yang merapikan buku buku di rak.Dipojok ruang kantor pondok terlihat Ukhti Jannah sedang mengetik.
“Itu Ukhti Jannah,ayo”ajakku untuk menghampiri Ukhti Jannah,
“Males berhadapan sama orang itu”,gerutu Nana sebal.
“Aku juga,ogah”,jawab Maria dan Fafa hamper bersamaan.
“Ya udah,aku sama kamu aja Ka”,kata Elfi sambil menarik tanganku.
          Ukhti Jannatun Nisa,atau yang akrab dipanggil Ukhti Jannah merupakan pengurus bagian keamanan.Dia salah satu pengurus yang paling tidak disukai santriwati.Dia terkenal galak.Padahal itu semua sebenarnya untuk kebaikan para santri sendiri.
“Assalamu’alaikum Ukhti”,sapaku dan Elfi.
“Wa’alaikumsalam”,jawab Ukhti Jannah cuek dan pandangannya tetap pada layar monitor.
“Ukhti boleh izin?”tanyaku pelan.
“Kemana?”tanpa berubah posisi,Ukhti Jannah menjawab.
“Ambil jas angkatan Ukhti di Wonosobo”,jawabku dan Elfi hampir serempak.
“Wonosobo?,jauh sekali.Ada yang mendampingi?”,Tanya Ukhti Jannah menggeser tempat duduknya dan memandang kami.”Ngga ada Ukhti”,jawab Elfi sedikit takut.
“Apa kalian bisa menjamin keselamatan kalian?kalian ini perempuan nduk,kalau ada apa apa pasti nanti pondok yang disorot”,Ukhti Jannah menatap tajam ke arah kami.
“Tapi Ukhti,tiga hari lagi akhirussanah,kami sudah menghubungi konveksinya untuk mengirim pesanan kami,tapi ternyata konveksi itu tidak menyediakan antar pesanan Ukhti”,jawabku dengan mimik serius.
Setelah berdebat panjang lebar,Bahkan Nana dan Maria yang biasanya tidak mau berhadapan dengan Ukhti Jannah ikut nimbrung dan ikut berbicara panjang lebar. Akhirnya kami diizinkan keluar,tetapi setelah pengajian pasaran kelas akhir usai.Jam 10.00 pengajian pasaranpun selesai.Aku dan keempat temanku bergegas menuju Terminal kecil Kaligadung. Kebaikan sedang berpihak kepada kami.Tanpa menunggu lama,bus jurusan Wonosobo datang,kami langsung menaiki bus tersebut.
Perjalanan ditempuh sekitar 4 jam .Setelah sampai di terminal dhuhur.Setelah sholat kami menuju alun alun Wonosobo untuk menunggu Mbak Halim,kakak Maria yang kuliah di UNSIQ Wonosobo.Sambil menunggu Mbak Halim dating,kami memesan sate jamur yang dijual disekitar alun alun.Sampai makanan habis,Mbak Halim tak kunjung menampakkan batang hidungnya.Sampai akhirnya,”Allahuakbar..allahuakbar”,adzan ashar terdengar.Dan hujan deras mengiringi adzan ashar.
“Aduh,hujannya deras banget,kesitu yuk!”,keluh Nana,dia menunjuk tenda polisi yang berada di depan bank BRI sebrang jalan.Kami berlarian menuju tenda polisi untuk berteduh.Hujan tak juga berhenti.Dan Mbak Halim tak kunjung dating.Di telephone berkali kali taka da jawaban.Kami mulai cemas.
“Aduh,Mbak Halim kemana sih?gak datang datang”,gerutu Maria.
“Iya Mar,padahal tadi waktu di bus,Mbak Halim sms katanya lagi siap siap mau kesini”,Elfi menatap kami.Jalanan sudah sepi,jarang pengendara sepeda motor yang lewat.Tiba tiba ada seorang bapak berusia sekitar 40 tahun yang mendekati kami.
“Dek,mau kemana?”,Tanya bapak tersebut sopan.Dari penampilannya yang memakai  hem panjang warna hijau muda,celana panjang hitam,dan bersepatu tak ada tanda tanda bahwa dia orang jahat.Kami awalnya ketakutan,namun karena sifat kami yang mudah akrab dengan orang lain,maka kami asyik mengobrol dengan bapak tersebut.Kami bercerita tentang perjalanan kami hari ini.
“Hujan masih belum berhenti juga,apa kalian mau saya antar kekostan kakak kalian?”,tawar bapak yang memiliki kumis tebal itu.
“Iya,ayok”,kata Nana senang.
“Maria,kamu ngertikan alamat kostnya Mbak Halim?”,Tanya Elfi.
“Iya,punya,tapi jauh dari daerah sini,”,jawab Maria.
“Yaudah,sini saya lihat alamatnya”,kata bapak tersebut.Maria menyodorkan selembar kertas.“Oh,daerah Bejiarum,saya tahu”,kata bapak tersebut seraya tersenyum.   
Namun,aku merasa ada yang tidak beres.Lalu aku pura pura memainkan ponselku.Aku menarik tangan Maria.”Eh,Mbak Halim udah di masjid agung”,ucapku sambil menatap mereka,tetapi Fafa,Elfi,dan Nana tak menghiraukan ucapanku.
“Hujan masih gede gini,mau jalan kaki kesana?basah semua dong,ikut bapak ini aja,minta diantar kesana”,kata Elfi.
“Iya,nanti saya antar sampai masjid tak apa”,kata bapak tersebut.Aku kesal,mereka tak mendengar ucapanku.
“Tak apa basah kuyup,tapi selamat”,jawabku sinis.Bapak itu memandang tajam kearahku.
“Bodoh banget kamu Ka,ada tumpangan gratis malah nolak”kata Elfi kesal.
“Iya tuh,mobilnya juga bagus”,kata Nana seraya menunjuk mobil innova silver yang tak jauh dari kami.
“Ikut aku atau dia?cepet!Mbak Halim udah nunggu disana!”,bentakku.
“Udah biar temanmu itu jalan kaki sendiri”,kata bapak itu.Aku panik,lalu aku menarik tangan Maria lagi,dan berjalan meninggalkan mereka.
“Ika bodoh banget sih,mana Maria ikut ikutan”,samar samar kudengar Nana mengoceh.Aku menoleh ke belakang.“Heh,kalian yang bodoh!,ikut sama orang yang gak dikenal.Cepet ikut aku!”,aku berjalan menuju mereka,namun mereka mengikuti laki laki tersebut.Aku mulai takut,Maria hampir menangis.”Ika,gimana ini?”,Tanya Maria lirih.
Saat Elfi hendak naik ke dalam mobil,Fafa menarik tangan Elfi dan Nana.Mereka lari.Refleks aku dan Maria ikut lari.Setelah sampai di pertigaan jalan,kulihat sudah banyak pedagang kaki lima yang menjajakan barang dagangannya.Hujan mulai berhenti.Kulihat mobil innova silver mendekat.Aku dan keempat temanku ketakutan dan berpegangan tangan erat satu sama lain.Tepat di depan kami,mobil tersebut berjalan pelan,kulihat ada empat menumpang di mobil tersebut,yang semuanya laki laki.Dan bapak yang tadi kami temui ada diantara mereka.Pengendara mobil tersebut melambaikan tangan kearah kami dan tersenyum licik.
Dengan perasaan tidak karuan,kami berjalan menuju masjid.Kami sholat ashar setelah sebelumnya mandi di kamar mandi masjid.Masih dengan perasaan yang tak karuan,kami menunggu Mbak Halim di serambi masjid.Lalu terdengar suara yang memanggil Maria.
“Maria”,panggil seseorang di halaman masjid.Kami semua menoleh.Kami menuju sumber suara.Tangis kami pecah.Mbak Halim bingung,lalu kami diajak duduk lagi di serambi masjid.
“Maaf yah,tadi sewaktu Mbak mau jemput,ada sms dari temen Mbak,katanya ada mata kuliah tambahan.Mbak udah nyuruh temen buat jemput kalian di alun alun,tapi katanya ndak ada kalian disana.Setelah ashar,baru Mbak kesini,Mbak tadi muterin alun alun nggak ada kalian,kalian di telephone gak diangkat,ternyata kalian disini”,lantas kami melihat ponsel kami masing masing,dan ternyata benar,ada panggilan dari Mbak Halim.
“Iya Mbak,gak papa,”,ucapku seraya menahan tangis.
“Terus ini kenapa kok pada nangis?”,Tanya Mbak Halim penasaran.
“Udah Mbak,tar aja ceritanya,sekarang pulang dulu”,kata Maria.
“Ya sudah,diem gih,jangan nangis lagi,sekarang kalian naik ke andong didepan sana”,kata Mbak Halim sambil menunjuk andong dijalan raya dekat masjid.

 Sesampainya di kost kostan Mbak Halim,kami menonton tv.Hening tanpa suara.Mbak Halim memandangi kami satu persatu.Dia terus bertanya kejadian apa yang kami alami sehingga kami menangis.Lalu kami mulai menceritakan semua yang terjadi.Mbak Halim menasehati kami panjang lebar.Dia mengingatkan kami untuk berhati hati.Untuk menenangkan kami,dia mengajak kami keluar untuk makan malam.Suasana malam di Kota Wonosobo sangat dingin,karena Kota Wonosobo terletak di Dataran Tinggi Dieng.Kami jalan jalan ke Mall yang ada di daerah Wonosobo.Untuk sejenak melupakan kejadian yang telah terjadi,kami bermain timezone disana.Setelah puas,kami pun makan dan bergegas pulang untuk istirahat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar